C'est La Vie


C'est La Vie

The Story of My LIFE

genderless

Thursday, July 09, 2009
It's funny how I see the concept of gender is becoming even more blurry. The concept when I was a little girl where a female should be able to cook, sensitive, caring, etc. doesn't always applies to every female. While, the concept of a male who should be strong, the breadwinner, the head of family, insensitive, doesn't always the case in every male beings. I am seeing more of a cross gender traits nowadays. I'm learning to re-define my old concept to the new one. Where do I stand?! Let's see, my gender title is a female, but I actually feel more of a match to the male traits. Sometimes I wish I were born as a male, not a female.

Labels:

I have made my decision...

Saturday, July 04, 2009
I don't think I and my boyfriend have known each other well enough yet, and I still love him despite the misunderstanding that had occurred. The last misunderstanding was due to assumptions about each other, thus lead to uncomfortable situations.

I have made my decision to stay and cherish this relationship. Let's see how it unfolds, I don't know what the future brings, but for now I'll give my best.

Labels:

time....

Tuesday, June 30, 2009
I shall not rush myself into any major decision, I will really take my time to calm down, think this over, ask my heart, connect with my inner self and ask what HE has in store for me to learn by having a relationship with my new boyfriend.

Meanwhile, sorry babe, I got another big project coming up in another 15 days, my job is still more important.

Time will help to answer my doubts & prayers
Time will help to heal my wounded heart
Time will help me to forgive him

Labels:

oooopssss.... it hurts, isn't?!

Monday, June 29, 2009
Kau tanamkan luka, akankah kamu harus menuai luka itu suatu hari? Cara kamu memang halus, aku hampir tidak menyadari luka itu ada. Kini aku telah terbangun sadar, merasakan sakit yang membawa dilema antara benci dan cinta. Diantara dua pilihan: berjuang atau menyerah? Is it worth fighting for? Atau lebih baik aku menyerah saja? Haruskah aku melepaskan dia semudah itu? Yakinkah aku? I am nowhere close to decide.

Entah mengapa aku ini, kalau urusan kerjaan, aku pantang menyerah sampai titik darah penghabisan, apapun yang tidak mungkin, aku buat mungkin. Namun mengapa kalau urusan cinta, sepertinya perjuangan aku tidak setangguh itu?! Sedikit berjumpa masalah dan rintangan, aku langsung berpikir untuk menyerah. Am I ready for a relationship?

I am starting to question my own view on love and relationship. What does it really mean to have and sustain a relationship? What does it mean to really be committed to each other? How do you define a healthy relationship? Is there any such thing?

Everything may seem like a perfect concept in a nutshell, yet I'm torn apart inside, questioning what life brings in store this time. Meanwhile, I will turn 25 really soon and a good friend once said that when you reach 25, your life direction will be more clear, I am nowhere close to that. Although I do feel less worried about the future, yet I'm not ready to decide what's next?!

Labels:

past...

Saturday, June 20, 2009
We are here in the existence of the present time, inevitably bringing our past memories along, the good ones, the bad ones, the sweet ones, and the painful ones. I must say that I was emotionally and mentally wounded. I have not healed completely. Certain cases reminded me of the less memorable past, it brings back the pain, the fear, and the trauma. Luckily, my rational side of mind reminded my emotional side that it was all over and there is no need to play back those less memorable memories over and over again unless I want to torture myself for something unnecessary.

Be patient, time will heal, although not completely, but progressively better...

Labels:

learning points

Terkadang bukan apa yang dikatakan yang penting, tetapi kapan, dimana, dan melalui apa kita mengatakannya menjadi lebih penting dan fatal ketika kita terburu-buru dan hanya berpikir dari satu sudut pandang.

funny how...

Lucu kadang menyaksikan perbedaan antara pria dan wanita, bagaimana mereka bisa connect, bagaimana mereka bisa clash, bagaimana mereka bisa mencintai satu sama lain, bagaimana mereka bisa membenci satu sama lain, dan disamping semua perbedaan itu, mereka sebenarnya membutuhkan satu sama lain.

sometimes...

Sunday, June 14, 2009
Sometimes even the toughest person I ever known could have her moment of weakness. She finally said that she needs a support, she cannot pull it off on her own, she has lost her sense of direction, and that's simply why I can't leave her anytime soon

It's not only her who needs me, but I also need her presence in my life.

Labels:

what the heck?!

Sunday, May 31, 2009
Menurut http://doliharahap.net/blog/2009/03/penyetaraan-ijazah-luar-negeri-oleh-dikti-terkesan-aneh/

Setiap mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri, khususnya negera persemakmuran Inggris (Malaysia, Australia, dll), yang menganut sistem pendidikan Inggris, biasanya selalu dihadapkan dengan permasalahan dan ketakutan bahwa pendidikan S1 yang mereka ambil hanya akan dianggap D3 oleh DIKTI (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi). Itu memang nyata, dan sudah terbukti sampai sekarang ini. Semua lulusan yang bergelar Bachelor walaupun ada embel-embel WITH HONOURS sebagian akan disetrakan sebagai D3, tetapi ada juga yang disetarakan S1. Itu menjadi pertanyaan saya, setelah saya melihat-lihat di website http://evaluasi.or.id yang tertera untuk universitas saya, Universiti Utara Malaysia, dengan program yang sama dan gelar yang didapatkan sama, Bachelor Information Technology with Honours, dua orang SHERLIA ARLIATY dan MUHARMAN LUBIS, bisa mendapatkan penyetaraan yang berbeda.

While, another article said http://ourfrenzhip.blogspot.com/2009/03/s1-degree-bachelor-degree-and-master.html

Program pendidikan S1 (Strata 1) itu hanya ada di Indonesia. Kurikulum program ini memiliki beban minimal 140SKS (satuan kredit semester). Kurikulum Nasional Perguruan Tinggi, 1994 yang pada umumnya terbagi dalam 8 semester dengan waktu studi 4 tahun. Namun pada kenyataannya banyak mahasiswa S1 tidak dapat menyelesaikan studi dalam 4 tahun. terutama bagi mahasiswa jurusan teknik. Molornya waktu studi ini biasanya terjadi di tahun-tahun terakhir ketika mahasiswa harus menyelesaikan tugas akhir berupa skripsi, terutama yang berbasis penelitian lapangan atau penelitian laboratorium. Waktu studi total bagi mahasiswa jurusan teknik umumnya menjadi 4 1/2 sampai 5 tahun.

Program pendidikan S1 tidak dikenal di negara lain. Di Malaysia, Singapura, Filiphine, Thailand, India, Australia, bahkan Amerika Serikat dan Inggris. Program pendidikan tinggi terbagi menjadi dua, yaitu program undergraduate (bachelor degree) dan program graduate (master degree). Undergraduate program umumnya memiliki beban studi 120 SKS, sedangkan master program 150 SKS. Untuk menyelesaikan undergraduate program biasanya diperlukan waktu studi sekitar 3 tahun, dan jika diteruskan ke tingkat master, diperlukan waktu studi 2 tahun lagi, sehingga untuk meraih master degree diperlukan waktu studi sekitar 5 tahun. Jika program S1 kita bandingkan dengan kedua program di atas, tampak bahwa program S1 itu banci dan tanggung. Ia mempunyai beban lebih besar dari program undergraduate tetapi lebih kecil dari program graduate (master).

“Kebancian” program S1 kita ini pada kehidupan keseharian ternyata lebih banyak merugikan daripada menguntungkan. Kerugian lebih dirasakan terutama oleh sarjana S1 yang bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional, baik yang berdomisili di dalam negeri maupun di luar negeri. Perusahaan-perusahaan semacam ini menerapkan standar atau kualifikasi internasional dalam merekrut karyawannya. Dan jika itu menyangkut tenaga kerja berkualifikasi lulusan perguruan tinggi, mereka hanya mengenal kualifikasi undergraduate (bachelor) degree dan graduate (master) degree. Mereka tidak mengenal S1 degree. Jika pun terpaksa harus menerima mereka yang berkualifikasi S1, perusahaan internasional ini akan menyamakan kualifikasi S1 bukannya setara dengan master degree melainkan dengan undergraduate (bachelor) degree (menyedihkan sekali). Ini berarti kelebihan beban studi sekitar 20 SKS, atau dari segi waktu studi sekitar 1 sampai 2 tahun, tidak mendapatkan penghargaan/kompensasi sebagaimana mestinya.

Gaji, pendapatan atau peringkat lulusan S1 yang bermasa studi 4 sampai 5 tahun di perusahaan semacam ini disamakan dengan lulusan undergraduate yang bermasa studi 3 tahun. Berarti lulusan S1 kita rugi dari segi waktu, biaya dan tenaga. Kerugian jenis lainnya juga dialami oleh para lulusan S1 yang memiliki kesempatan untuk meneruskan studi ke program master di luar negeri. Perguruan tinggi negara tujuan biasanya mengharuskan lulusan S1 Indonesia untuk tetap mengambil beban studi sebanyak 30 sks seperti halnya lulusan undergraduate setempat. Jika program S1 kita diakui oleh mereka, maka seharusnya kita tinggal menempuh 20 sks saja untuk menyelesaikan program graduate (master). Untuk menyelesaikan masternya, lulusan S1 kita pada akhirnya harus menanggung beban studi sekitar 170 SKS (140 SKS beban S1 + 30 SKS beban program graduate (master).

Oleh karenanya tidak mengherankan jika mahasiswa-mahasiswa program master dari Indonesia umumnya lebih tua dari mahasiswa setempat. Dari sudut pengembangan prestasi dan karier jelas yang lebih muda lebih banyak memiliki peluang daripada yang lebih tua. Ini berarti tenaga-tenaga berkualifikasi master degree Indonesia kurang kompetitif dari segi umur dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang sama-sama berkualifikasi master dari negara-negara lain.

Kerugian lulusan S1 tidak hanya terjadi di luar negeri saja, melainkan juga di dalam negeri. Kadang kala kita masih dapat menerima jika perguruan tinggi di luar negeri tidak mengakui kualifikasi lulusan S1 yang berbeban studi 140 SKS karena berkaitan dengan faktor “pride” atau prestise perguruan tinggi atau negara bersangkutan. Namun bagaimana jika perguruan tinggi dalam negeri yang meluluskan S1-nya sendiri ternyata juga tetap mengharuskan tambahan beban studi sebanyak 30 sampai 36 SKS untuk meraih gelar magister atau S2? Bukankah ini ironis? Bukankah seharusnya, apabila mengacu ke program magister internasional yang berbeban studi sekitar 150-an SKS, lulusan S1 kita tinggal menempuh 10-15 SKS lagi untuk menyelesaikan program S2 dalam negeri?

Sampai saat ini rasanya belum terlihat adanya usaha dari pihak-pihak yang berkompeten untuk mencermati masalah kerugian yang diakibatkan oleh “kebancian” program S1 kita. Kerugian waktu yang dialami oleh para mahasiswa dan lulusan S1 kita itu jelas memiliki korelasi dengan besarnya biaya, tenaga, dan energi yang dikeluarkan. Ternyata juga jika dihitung secara sepintas, memunculkan jumlah biaya yang tidak sedikit. Jika perkiraan total biaya kuliah per-mahasiswa per-tahun adalah Rp. 10 juta (angka ini berasal dari perkiraan jumlah biaya SPP per tahun sekitar Rp. 4 juta beserta biaya hidup setahun sekitar Rp 6 juta) maka kerugian waktu 2 tahun per-mahasiswa adalah sekitar Rp. 20 juta. Dan jika angka ini dikalikan dengan puluhan juta mahasiswa S1 di seluruh Indonesia, maka angka biaya (kerugian) yang muncul akan sangat mencengangkan, besarnya bisa sampai puluhan triliun rupiah.

Selain aspek kerugian biaya di atas, aspek kerugian waktu sekitar 1 sampai 2 tahun bagi mahasiswa S1 di era informasi terasa semakin signifikan, karena hal yang bisa dilakukan dan dicapai dalam waktu 2 tahun menjadi lebih mudah dibandingkan di era-era sebelumnya. Jarak dan ruang semakin dekat berkat kemajuan teknologi informasi seperti internet, email, dan telepon seluler. Jika program S1 kita berwaktu studi 3 tahun, maka lulusan S1 kita dapat menyingkat waktu 1 sampai 2 tahun. Selama waktu 1 sampai 2 tahun itu, banyak hal dapat dilakukan oleh para lulusan S1.

Dengan menggunakan kemajuan teknologi informasi yang efisien, mereka dapat dengan cepat mengakses berbagai informasi yang berkaitan dengan pengembangan studi dan karier. Lulusan S1 akan berumur sekitar 22 tahun, masih muda, masih cukup banyak waktu untuk melakukan adjustment (penyesuaian) dalam mencari lapangan pekerjaan ataupun beralih profesi sesuai dengan tuntutan jaman. Jika program S1 tetap bertahan dengan masa studi 4 sampai 5 tahun, maka waktu penyesuaian itu menjadi sempit, sehingga dimungkinkan akan lebih banyak lulusan S1 menganggur. Dipertahankannya program S1 hingga saat ini menunjukkan bahwa kita irrasional, di satu sisi menyadari akan adanya era informasi, di sisi lain seolah-olah tidak peduli dengan aspek pentingnya efisiensi. Tahun 2010, tahun pasar bebas global, sudah tinggal setahun lagi. Satu-satunya cara untuk dapat survive di era tersebut, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa, adalah dengan memiliki daya saing yang tinggi.

So, I think this is our government's defense mechanism of having such education system that is not being well-acknowledged in other parts of the globe. Also, proven that they are threatened with the increasing number of overseas graduates in Indonesia. Even more weird in their "Formulir Penyetaraan", there's an irrelevant question of "Belajar atas biaya siapa?", is that part of your business to know who is paying for my education?! I don't think that's is important for you to know. Anyhow, I couldn't care less since now I'm working in a multinational company, not in a local one, not even in a government institution.

Labels: